5 Kebiasaan yang Membuat Kelas Menengah Susah Menjadi Kaya dan Terus Miskin

Dalam banyak masyarakat, kelas menengah dipandang sebagai indikator stabilitas ekonomi. Namun, meskipun mereka tampak sejahtera, kelas menengah sebenarnya sering terjebak dalam tantangan keuangan yang sulit diatasi.

Kebiasaan pengelolaan keuangan yang buruk menjadi salah satu faktor penyebab ketidakstabilan ini. Robert R. Johnson, seorang ahli keuangan, menyoroti beberapa perilaku yang dapat menghambat kemajuan finansial mereka.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana kebiasaan tertentu, meskipun terlihat sepele, dapat berdampak besar pada keuangan jangka panjang. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan yang lebih bijak menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan finansial.

Johnson menjelaskan bahwa satu aspek utama yang sering diabaikan oleh kelas menengah adalah perilaku pengeluaran yang berlebihan seiring dengan kenaikan pendapatan yang mereka terima.

Gaya Hidup yang Ikut Naik Bersamaan dengan Kenaikan Gaji

Salah satu kebiasaan yang paling umum adalah lifestyle creep, yaitu saat individu mulai menghabiskan lebih banyak uang begitu pendapatannya meningkat. Misalnya, banyak orang yang memilih untuk pindah ke rumah atau apartemen yang lebih besar setelah mendapatkan kenaikan gaji.

Pada awalnya, langkah ini memberikan kenyamanan finansial, namun dalam jangka panjang dapat mengganggu kestabilan keuangan. Johnson mengingatkan agar kenaikan gaji sebaiknya dialokasikan untuk investasi, seolah-olah peningkatan pendapatan tersebut tidak pernah terjadi.

Dengan cara ini, misalnya jika seseorang mampu menginvestasikan tambahan lima ribu dolar per tahun dengan imbal hasil 10 persen, hingga 30 tahun ke depan, jumlah itu dapat bertumbuh menjadi lebih dari delapan ratus ribu dolar. Ini merupakan strategi yang sangat efektif untuk membangun kekayaan.

Kesalahan dalam Pengeluaran untuk Tempat Tinggal

Selain gaya hidup yang meningkat, ada juga masalah umum lainnya yaitu menjadi “house poor.” Ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan situasi di mana individu menghabiskan terlalu banyak untuk hunian. Johnson menekankan bahwa hal ini dapat menghalangi peluang investasi yang lebih menguntungkan.

Banyak orang memiliki keyakinan bahwa membeli rumah adalah investasi yang aman. Namun, ekonom Nobel, Robert Shiller, berpendapat bahwa rumah sebagai aset sering kali memerlukan biaya perawatan yang tinggi dan bisa cepat kehilangan nilainya.

Oleh karena itu, penting untuk tidak menghabiskan lebih dari yang diperlukan untuk rumah, supaya individu tetap memiliki ruang untuk berinvestasi di sektor lain, seperti saham atau obligasi. Ini menjadi kunci untuk menjaga kesehatan finansial yang lebih baik.

Risiko yang Terlalu Rendah Dapat Menghambat Pertumbuhan Kekayaan

Sikap berhati-hati dalam berinvestasi itu penting, namun terlalu konservatif bisa menghambat peluang pertumbuhan kekayaan. Banyak orang, khususnya generasi muda, cenderung menempatkan tabungan pensiun mereka dalam instrumen yang sangat aman, seperti obligasi yang minim risiko.

Namun, strategi tersebut tidak selalu efektif. Johnson merekomendasikan agar individu mulai berinvestasi sejak dini melalui produk investasi yang lebih beragam dan berpotensi menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi, seperti reksa dana indeks atau ETF.

Penting juga untuk menerapkan metode dollar-cost averaging, yaitu menabung secara rutin tanpa mempedulikan fluktuasi pasar, untuk memaksimalkan hasil investasi jangka panjang.

Keinginan untuk Mengakali Pasar dan Menghadapi Risiko

Sebagian orang percaya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memprediksi pergerakan pasar, namun hal ini cenderung sangat sulit dilakukan secara konsisten. Johnson mengingatkan bahwa strategi keluar masuk pasar sering kali dapat berujung pada kerugian yang lebih besar.

Alih-alih mencoba menghindari kerugian dengan menebak-nebak pasar, lebih baik bagi investor untuk tetap melakukan investasi secara rutin dalam indeks yang lebih luas seperti S&P 500 melalui reksa dana atau ETF. Ini akan lebih efektif dalam jangka panjang.

Dengan cara ini, investor dapat mengurangi dampak volatilitas pasar dan tetap fokus pada tujuan investasi mereka tanpa terganggu oleh fluktuasi jangka pendek.

Fokus Berlebihan pada Pelunasan Utang

Walaupun melunasi utang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi, menjadikannya sebagai prioritas utama juga bisa menjadi jebakan. Johnson mencatat bahwa terkadang, banyak orang rela melewatkan kesempatan investasi yang berharga karena terlalu fokus untuk melunasi utang terlebih dahulu.

Sebagai contoh, ini terjadi ketika seseorang tidak berpartisipasi dalam program pensiun yang menyertakan kontribusi dari perusahaan, sehingga mereka melewatkan “uang gratis.” Ini adalah kesalahan besar yang dapat berpengaruh terhadap masa depan finansial mereka.

Oleh karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan antara membayar utang dan merencanakan investasi yang dapat menghasilkan kekayaan di masa depan. Ini akan memungkinkan individu untuk tidak hanya melunasi utang, tetapi juga membangun kekayaan secara bersamaan.

Related posts